J Kristiadi

Biodata J. Kristiadi
Nama: J. Kristiadi
Lahir: Yogyakarta, 24 Maret 1948
Agama: Katolik
Istri: Anastasia Soemiyati

Anak:
1. Rosa Maria Dianing Dyah Maharani
2. Josef Rahadiyan B. Wicaksono

Ayah: R.P. Pronojono Pujowinarto
Ibu: Sulastri

Pendidikan:
- SD Komendaman Yogyakarta
- SMP Pangudi Luhur Yogyakarta
- SMA De Brito Yogyakarta
- Fisipol Universitas Gadjah Mada (S1), (1976)
- Jurusan Ilmu Politik Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (S3), Yogyakarta (1993)

Karir:
- Peneliti di Center for Strategic and International Studies (1976-sekarang)
- Dosen FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta
- Dosen tamu di SESKO TNI dan Lembaga Administrasi Nasional (LAN)

Alamat Rumah:
Jalan Dahlia II, Tomang Raya, Jakarta Barat

Alamat Kantor:
Jalan Tanah Abang III/27, Jakarta Pusat

Pengamat Politik Berwarna


Pria berkacamata ini dikenal sebagai peneliti senior dari Center for Strategic and International Studies (CSIS). Sebagai peneliti dan pengamat yang sudah berkiprah selama kurang lebih 30 tahun, ia akrab dengan topik penelitian seputar peran TNI, perkembangan politik dan pertahanan. Dia seorang narasumber bagi berbagai media yang pendapatnya seringkali dianggap berwarna dan kontroversial.


Pada saat kampanye Pemilu Presiden 2004, komentar-komentarnya dianggap berbagai pihak sangat menjagokan Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono daripada Megawati Soekarnoputri.



Berbagai pihak melihatnya sangat dekat dengan politik TNI. Salah satu pernyataannya yang cukup kontroversial, mengenai peran politik TNI adalah mengenai sudah seharusnya TNI mempunyai hak pilih dalam pemilu.


Karena, menurutnya, TNI itu adalah warga negara biasa. Maka TNI boleh saja memimpin sebuah partai politik, asalkan bisa menyesuaikan dengan habitatnya yang baru. Pernyataan ini terasa sumbang di tengah teriakan untuk segera mengikis kiprah politik TNI di tengah pemberdayaan masyarakat sipil.


Namanya semakin mencuat menjelang dan sesudah Soeharto lengser dari kekuasaan, bahkan hingga kini pun ia masih sering tampil baik di televisi, radio, seminar, acara peluncuran buku, dan media cetak, membagikan analisis politik negeri ini. Meski sudah populer, Kris dengan rendah hati menyikapinya, “Saya merasa biasa saja.”


Nama J. Kristiadi kerap dianggap sama dengan nama J.B Kristiadi yang menjabat sebagai sekretaris menteri Komunikasi dan Informasi. Meski Kristiadi yang satu ini tidak disertai huruf “B”, banyak undangan seminar dan perkawinan, serta permintaan wawancara yang nyasar ke alamatnya. Begitu pula sebaliknya.


Kris, begitu ia biasa dipanggil, dibesarkan dalam keluarga pegawai. Ayahnya bekerja sebagai pegawai negeri di sebuah rumah sakit dan ibunya seorang guru di sekolah dasar di Yogyakarta.


Sewaktu Kris kelas 3 SD, ia tidak bisa memiliki buku karena orang tuanya tidak mempunyai uang. Suatu kali, ibunya mengajaknya ke makan neneknya, dan di sana mereka berdoa. Saat berdoa, Kris minta diberikan buku. Entah dari mana datangnya uang, doa si sulung dari tujuh bersaudara ini terjawab, ia dibelikan buku oleh ibunya.


Kehidupan keluarga Kris boleh dibilang pas-pasan. Gaji orangtuanya yang kecil sudah habis pada pertengahan bulan. Seringkali ia harus naik sepeda sejauh 15 kilometer ke rumah neneknya untuk mengambil beras. Hal ini dilakoninya sejak kelas 3 SMP hingga SMA.


Selesai dari SMA, Kris melanjutkan kuliah di UGM. Demi biaya kuliah Kris, ayahnya menjual sawah dan ibunya bekerja keras mencari tambahan penghasilan. Meskipun demikian, Kris masih sering terlambat membayar SPP dan harus melapor ke pembantu rektor II meminta perpanjangan waktu bayar.
Suatu kali, sejarawan Prof. Sartono Kartodirjo mengajaknya ikut penelitian. Awalnya ia ikut karena ingin memperoleh honor untuk mengisi kantong sakunya yang sering kembang kempis. Namun, motivasinya ini berubah. Lama kelamaan ia benar-benar tertarik pada dunia penelitian.


Lulus kuliah dari Universitas Gajah Mada (UGM) tahun 1976, Kris masuk CSIS dan merasa cocok berkarya di lembaga penelitian tersebut. Oleh Harry Tjan Silalahi, peneliti di CSIS, ia diminta sekolah lagi. Awalnya ia merasa bingung, namun akhirnya mendaftar juga di Pascasarjana UGM, awal 1990, dan dalam waktu tiga tahun enam bulan ia menggondol gelar doktor dengan predikat cum laude. Disertasinya berjudul “Perilaku Pemilih Masyarakat dalam Pemilu Kurun Waktu 1971-1992.” Kemudian, ia kembali berdinas di CSIS sebagai peneliti.

Setelah 30 tahun mengamati perpolitikan, Kris mengakui bahwa menjadi peneliti tidak hanya sebagai pekerjaan ataupun profesi, tapi merupakan panggilan hidup. Walau menjadi peneliti tidak bisa kaya, ia merasa sudah kaya. “Orang bisa kaya asalkan tahu batas kebutuhan. Bisa pakai baju tidak bermerek tapi enak dipakai, bisa menyekolahkan anak di tempat yang baik, punya mobil walau pinjaman kantor, itu sudah kaya,” kata ayah dua anak yang punya prinsip hidup ‘ojo dumeh’ (jangan sok) ini.

Makanya, kepada anak-anaknya, ia ingin mewarisi bukan dengan kekayaan yang sifatnya materi namun dengan ilmu dan nilai hidup. Ia percaya kedua hal itu cukup membuat anak-anaknya survive dengan baik dalam menjalani kehidupan ini.
Selain itu, ia juga mengajarkan kultur berani berargumentasi dan banyak membaca kepada anak-anaknya, minimal 3-4 jam sehari. “Setelah itu, mereka boleh main asalkan tidak di night club dan semacamnya,” ujar suami Anastasia Soemiyati —bekas temannya di Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia.


Di usianya yang sudah berkepala lima, J. Kristiadi tetap berusaha menjaga kebugaran tubuhnya dengan berolahraga senam dan joging sekitar 25 menit setiap hari setelah bangun pagi. Menurutnya, senam punya filosofi tersendiri. “Dengan senam begitu bangun, kita sudah menang satu poin karena sudah bisa mengalahkan diri kita sendiri dengan memerintahkan organ kita untuk bangun dan senam.

Sumber: Tokoh Indonesia.

No comments:

Post a Comment

Silahkan meninggalkan komentar apapun. Terimakasih.

Post a Comment